NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM MITOS DI GUNUNG LIMO DESA MANTREN KECAMATAN KEBONAGUNG KABUPATEN PACITAN

  • Nadela Nur Rahmadani
  • Mukodi Mukodi
  • Arif Mustofa

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan deskripsi mitos apa saja yang ada di Gunung Limo, untuk menghasilkan deskripsi makna mitos yang ada di Gunung Limo, dan untuk menghasilkan deskripsi fungsi mitos yang ada di Gunung Limo Desa Mantren Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan bersifat deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semiotik. Data dalam penelitian ini adalah kata-kata atau kaLimot yang ada dalam mitos (a) sebagai tempat bertapa untuk memperoleh kesaktian/wangsit, (b) mitos buah-buahan yang tidak bisa dibawa pulang, (c) mitos batu selomatangkep, (d) mitos Tunggul Wulung, (e) parijoto di Gunung Limo, (f) upacara adat tetaken sebagai ritual tolak balak, (g) menebang pohon di kawasan Gunung Limo, (h) mengibarkan bendera Tunggul Wulung saat ada wabah penyakit. Metode pengumpulan datanya diperoleh dari observasi, wawancara, catat, dan dokumentasi. Hasil penelitian menemukan (1) delapan mitos yang ada di Gunung Limo (a) Gunung Limo digunakan sebagai tempat bertapa untuk mendapat kesaktian/wangsit, (b) mitos buah-buahan yang tidak bisa dibawa pulang karena jika dibawa pulang atau keluar dari kawasan bisa berubah bentuk, (c) mitos batu selomatangkep (batu besar yang hanya cukup dilewati satu orang saja) apabila seseorang memiliki niat buruk dan ragu bisa melewati atau tidak maka seseorang tersebut tidak akan bisa melewati batu selomatangkep, (d) mitos Tunggul Wulung, salah satunya bermain bola menggunakan batu besar dengan dua orang saudaranya yang masing-masing berada di gunung yang berbeda, (e) parijoto di Gunung Limo, mitosnya jika seorang ibu hamil menjumpai tumbuhan tersebut maka anak yang dikandungnya akan tampan atau cantik, namun hanya orang-orang yang beruntung yang bisa menjumpai tumbuhan tersebut dikawasan Gunung Limo, (f) upacara adat tetaken sebagai ritual tolak balak, (g) menebang pohon di kawasan Gunung Limo, (h) mengibarkan bendera Tunggul Wulung saat ada wabah penyakit. (2) masing-masing mitos memiliki makna yang berbeda sesuai dengan jenis mitos maupun diksi yang digunakan. (3) masing- masing mitos juga memiliki fungsi yang sangat penting untuk kelangsungan hidup masyarakat.

References

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan. 2019. Kabupaten Pacitan Dalam Angka. Pacitan: BPS Kabupaten pacitan.

_______. 2018. Kecamatan Kebonagung dalam Angka. Pacitan: BPS Kabupaten Pacitan.

Danandjaja, James. 1997. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Iriyanti, dkk. 2014. Pemanfaatan Budaya Lokal Kabupaten Pacitan “Tetaken” Sebagai Sumber Belajar. Surakarta: Oase Pustaka.

Moleong, Lexy J. 2016. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2017. Metode Penellitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Anggitaa, Mega, G., Mukarromah, Baitul, S., Ali, Arif M. Eksistensi Permainan Tradisional Sebagai Warisan Budaya Bangsa.Journal Of Sport Science And Education (Jossae) Vol: 3, No: 2 October (2018)
Published
2021-01-10
How to Cite
RAHMADANI, Nadela Nur; MUKODI, Mukodi; MUSTOFA, Arif. NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM MITOS DI GUNUNG LIMO DESA MANTREN KECAMATAN KEBONAGUNG KABUPATEN PACITAN. Prakerta (Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra dan Pengajaran Bahasa Indonesia), [S.l.], v. 3, n. 02, p. 483 - 493, jan. 2021. ISSN 2615-3106. Available at: <http://ejournal.stkippacitan.ac.id/index.php/prakerta/article/view/349>. Date accessed: 13 apr. 2021.
PROMO WIN BONUS bagi member Bandar Judi Bola hanya di bolaonline303