PENDIDIKAN NILAI DALAM TEMBANG MACAPAT DHANDANGGULA

  • Heru Budiono Universitas Nusantara PGRI Kediri
  • Nara Setya Wiratama Universitas Nusantara PGRI Kediri

Abstract

Indonesia adalah negara kepulauan yang penuh dengan budaya dan adat istiadat. Budaya di Indonesia sangat beragam dan memiliki nilai-nilai karakter yang mulia, salah satunya adalah tembang macapat. Tembang macapat adalah ciri khas budaya Indonesia yang memiliki kedalaman nilai filosofis dan keindahan. Tembang macapat memiliki berbagai fungsi antara lain sebagai pengiring pidato, piranti ucapan, representasi ekspresi rasa, pengantar teka-teki, media dakwah, alat edukasi dan konseling, dll. Tembang Dhandanggula adalah salah satu tembang macapat yang menggambarkan kehidupan manusia yang telah mencapai tahap pembentukan sosial, kesejahteraan dan telah menikmati masa hidupnya. Kata dhandang berarti gagak yang melambangkan kesedihan. Kata gula berarti gula yang memiliki rasa manis sebagai simbol kebahagiaan atau kesukaan. Setiap keluarga di masyarakat Jawa harus bisa melewati manis getir kehidupan rumah tangga yang terkadang manis seperti gula atau  pahit, seperti pil, sebagai obat untuk membuat mereka lebih tangguh, dan responsif dalam segala kondisi dan situasi. Sehingga, semua muatan tersebut adalah sebagai nilai-nilai pendidikan. Nilai pendidikan tersebut sudah semestinya diinternalisasikan ke dalam strategi pembelajaran afektif (attitude). Strategi pembelajaran afektif tidak hanya ditujukan untuk mencapai pendidikan kognitif, tapi juga sikap dan keterampilan seseorang. Kemampuan afektif adalah objek yang sulit diukur karena berkaitan dengan kesadaran diri setiap orang.

References

Adisusilo, Sutarjo.2014. Pembelajaran Nilai Karakter (Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajan Afektif). Jakarta: Rajawali Press.
Agung, dan Suryani. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta: Ombak.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Pengajaran. Jakarta:Rineka Cipta.
Chodjim, A. 2013. Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga.Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.
Depdikbud RI. 1996/1997. Macapat dan Gotong Royong. Jakarta: Depsikbud RI.
Heliarta, S. 2009. Seni Karawitan Jawa. Semarang: Aneka Ilmu.
Laginem dkk. 1996. Macapat Tradisional Dalam Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nugrahani, Farida. 2008. Reaktualisai Pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa dalam Konteks Multikultural dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Kerangka Budaya. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Nugrahani, Farida. 2012. Reaktualisasi Tembang Dolanan Jawa Dalam Rangka Pembentukan Karakter Bangsa(Kajian Semiotik). Program Pascasarjana Universitas Veteran.
Purna, I Made. dkk. 1996. Macapat dan Gotong Royong, Macapat dan Gotong Royong, Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Purwadi. 2011. Diktat, Seni Tembang II. Yogyakarta: Pendidikan Bahasa Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta
Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas, 2009, Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah, Jakarta: Puskur Balitbang Kemdiknas.
Sahlan, A dan Mulyono. 2012. Pengaruh Islam Terhadap Budaya Jawa Tembang Macapat. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim.
Sanjaya, W.2013. Perencanaan&DesainSistemPembelajaran. Jakarta: Kencana.
Sundari, Asri. 2005. Buku Ajar Sastra Daerah. Jember: Fakultas Sastra Universitas Jember.
Undang-undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2012. Yogyakarta: Laksana.
Wiratama, Nara S. 2014. Nilai-Nilai Tembang Macapat dalam Pembentukan Karakter Bangsa. Jember: Universitas Jember.
Published
2017-06-03
How to Cite
BUDIONO, Heru; WIRATAMA, Nara Setya. PENDIDIKAN NILAI DALAM TEMBANG MACAPAT DHANDANGGULA. Jurnal Penelitian Pendidikan, [S.l.], v. 9, n. 1, p. 1344-1349, june 2017. ISSN 2477-5851. Available at: <http://ejournal.stkippacitan.ac.id/index.php/jpp/article/view/125>. Date accessed: 19 sep. 2018.